30 Desember



30 Desember Kelabu


Senja di ujung 30 Desember kala itu, saat dua orang anak manusia yang berlainan jenis hadir di pelataran rumahku.  Tampaknya mereka sedang bertengkar walau dalam diam. Itu terlihat dari sinar mata sang lelaki yang tajam  membara.

"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawabku seraya menyilakan masuk.
Berbeda dengan sang lelaki yang dengan mantap menjejakkan langkahnya masuk ke ruang tamu, si perempuan justru bergeming di tengah pintu. Dengan gemas lelaki itu menyeret tubuh perempuan itu masuk, lalu menghempaskannya ke kursi.
Aku hanya bisa kebingungan, tak berdaya menatap kejadian itu.

"Saya Ivan, ini istri saya Naina."
Lelaki itu menyalamiku, sambil menyebut namanya dan istrinya.
"Fia,"ucapku masih dengan heran.
"Mbak, bisa bergeser di dekat saya sebentar?" kata Ivan.
Deg! Sontak aku berpikir bahwa Ivan dan Naina ini komplotan yang suka menghipnotis orang.
Saat aku dalam kebimbangan yang nyata itulah Ivan beranjak dari tempat duduknya, membuka ponsel dan menyuruhku membaca.
Kupejamkan mata, membaca basmalah dengan khusuk lalu kubaca perlahan chat di whatsapp itu.
"Sayang, rindu ini telah berbuih. Kutunggu kamu di pasir putih."
Emoji daun waru berwarna merah disertakan.

Kupandangi Ivan dengan raut bingung.
"Maaf, saya tidak mengerti maksud chat ini."
"Itu adalah chat suamimu pada istriku!" kata Ivan penuh emosi.
Duarrr!!
Aku seperti terhempas di jurang yang tak berdasar.

 Senja sudah memerah saga di 30 Desember saat suamiku, Mas Rangga mengucap salam sambil menenteng tas kerjanya, "Assalamu'alaikum."
Aku menyambut dengan mencium takzim tangannya. Wajahnya memucat saat dilihatnya Naina ada diantara kami.
"Siapa dia, Mas?" tanyaku.
Bibir Mas Rangga terkatup rapat. Sementara itu bibir Naina justru tersenyum tipis.

"Kalian berselingkuh!" teriak Ivan.
"Maafkan aku," ucap Mas Rangga pelan.
Bugh!!
Bogem mentah Ivan mendarat dengan manis di rahang Mas Rangga. Naina menjerit tertahan.
Aku cenderung membiarkan, bahkan saat ada darah tersembul dari sudut bibirnya pun aku pura-pura tak melihat. Ivan duduk dengan nafas memburu, berusaha meredakan amarahnya.

Hening senja yang tersisa itu dipecahkan oleh suara Ivan.
"Naina, kamu mencintai Rangga?" tanya Ivan.
Naina mengangguk. Aku terkesiap. Ivan lemas di kursinya.
"Baik, detik ini jatuh talak kepadamu. Kau akan kuceraikan!" seru Ivan.
"Bagaimana denganmu,  Mas?" tanyaku.
Mas Rangga tertunduk. Diam.
"Pilihlah aku atau dia!" ujarku gusar.
"Kau harus memilih aku, Mas. Aku hamil anakmu," ucap perempuan yang bernama Naina itu.
Air mataku jatuh.
Brakk!!
Ivan menggebrak meja lalu pergi tanpa pamit.

Selepas senja di 30 Desember itu, aku pulang ke rumah orang tuaku dengan luka yang menganga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKU BUKAN ANAK SUNDAL

AKULAH SANG RATU