AKULAH SANG RATU




Akulah Sang Ratu

Aku meregangkan tubuhku seraya mengawasi pergerakan Resti. Sorak-sorai penonton tumpah ruah, seakan menyulut semangatku.

"A-li-na! A-li-na!"

Hari ini penentuan hidup mati antara aku dan Resti. Kusesalkan mengapa kami lahir dengan waktu yang sama, membuat aku dan Resti harus bertarung mati-matian untuk menyandang gelar Queen Bee.

Resti menerjang ke arahku dengan amarah. Sedikit kumiringkan tubuh membuat ia jatuh terjengkang. Tepuk tangan riuh membahana.

"Alina, i love you!"

Suara si tampan Jack makin membuatku bergairah bertempur. Aku tersenyum mengejek, kala Resti bangkit dengan mata memerah. Ia menendang ke segala arah, padaku yang bergerak lincah. Saat ia lengah, kusengat ia berkali-kali hingga terhuyung dan roboh.

Akulah ratu di kerajaan ini. Puluhan ribu betina pekerja itu menjura padaku. Semua pengasuh siap melayani. Aku berjalan jemawa menuju ruangan yang luas dan besar.

"Aku lapar!" teriakku.

Para pengasuh terlihat sibuk, semangkuk royal jelly tersedia dengan sekejap. Makanan yang kaya nutrisi itu tandas kulahap. Adele, pengasuh yang sebaya denganku tampak iri menatap.

"Adele, kau ingin mencicipinya?" tanyaku tanpa melihat ke arahnya.

"Tidak, ratu Alina. Royal jelly hanya untuk sang ratu. Kami sudah cukup makan madu," ujarnya dengan takut.

Tentu saja aku harus makan royal jelly, agar sistem reproduksiku berkembang dengan baik. Pernah Adele marah pada pekerja, kala serbuk sari dan nektar yang ia pesan tak sesuai harapan.

"Cari serbuk sari dan nektar dari bunga  terbaik untuk ratu Alina. Ia harus melahirkan generasi yang banyak agar koloni kita tak punah!" perintah Adele tegas.

16 hari kemudian.

Aku terjaga kala sorot matahari menerobos dinding istana. Adele memberitahu, beberapa pejantan tangguh tengah menunggu di luar. Siklusku memang begitu, setelah 16 hari kelahiran Queen Bee, ratu harus kawin. Uhuk, kawin? Yes, i like it.

Aku terbang dengan lincah, menggoda kawanan pejantan. Si ganteng Jack melesat mengejar, disusul pejantan lainnya. Aku menikmati pengejaran yang penuh hasrat ini. Saat satu-persatu para pejantan menyerah tak mampu terbang tinggi menyusulku.

Jack tertawa ketika berhasil menangkapku. Seiring dengan desir angin di udara ia mencumbuku. Gairahku membuncah tatkala Jack melepas hasrat. Kurasakan senjata andalannya menempel erat di rahimku, dan pejantan tangguh itu mati. Tubuhnya melayang, jatuh ke bumi.

Menangiskah aku? Buat apa?
Masih ada ratusan pejantan bersamaku. Mereka memuja, rela menukar nyawanya demi memuaskanku. Testis pejantanku akan meledak usai bercinta. Kasihan, hanya sekali saja mereka bisa bersenggama. Dan ratu Alina selalu menikmati perjaka. Tragis!

Segala kemewahan yang kudapat seimbang dengan tugas. Akulah yang mengatur tugas ribuan pekerja, menjaga keharmonisan koloni dan bertelur sepanjang hari. Ada ribuan telur  yang harus kuproduksi, menggantikan pekerja yang hanya berumur 40 hari. Sementara usia Queen Bee bisa mencapai 3-5 tahun.

Hari ini aku merasa berbeda dengan sambutan para pekerja dan pengasuh.

"Mengapa mereka tidak menjura saat aku lewat, Ryu?" tanyaku pada pengasuh baruku.

Ryu justru menatap curiga.Hidungnya kembang kempis membaui tubuhku.

"Ratu Alina, sepertinya feromon yang mengisyaratkan bahwa engkau adalah ratu mulai memudar. Hati-hatilah!"

Aku terkesiap. Tanpa feromon mereka takkan mengenaliku sebagai ratu. Aku lupa akan menua. Lezatnya royal jelly dan hangat pelukan pejantan membuatku abai.

"Tugas petarung adalah melindungi koloni. Bunuh penyusup dengan cara apapun!"

Aku ingat seruanku yang menggebu kala baru beberapa hari menyandang Queen Bee. Tanpa feromon mereka akan menganggapku penyusup. Berjingkat aku meninggalkan istana dan sialnya, berpapasan dengan Ryu. Ia mendelik menatapku.

"Ada penyusup di istana!"

"Ryu, ini aku. Ratu Alina," bisikku.

Ryu kian lantang berteriak. Ratusan petarung mencegat langkah, mengurungku. Aku pias.

"Hey, aku Alina, ratu kalian!"

"Laksanakan balling!" teriak pemimpin  pasukan seraya berlari cepat membentuk lingkaran.

Tubuhku bergetar hebat mendengarnya. Kematian membayangi. Aku kehabisan napas saat ribuan petarung menginjak-injak dan menggencet tubuhku. Sayup kudengar suara Ryu berteriak," Kita harus segera melahirkan ratu baru!"

End.

Catatan: Balling adalah teknik membunuh yang dilakukan lebah petarung dengan berkerumun super erat dan menggencet tubuh musuh.

Feromon adalah hormon yang dihasilkan ratu lebah untuk memberitahu bahwa ia adalah ratu.

Queen Bee: Ratu Lebah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

30 Desember

AKU BUKAN ANAK SUNDAL