AKU BUKAN ANAK SUNDAL

Aku Bukan Anak Sundal

"Jun  berangkat sekolah, Pak."
Kucium tangan kasar bapak dengan takzim. Bapak melihatku sekilas, lalu sibuk menulis angka-angka yang tak kumengerti. Lalu ia dengan sumringah berteriak," lima delapan enam. Angka bagus ini, pasti aku menang."

Bapak hampir menabrakku, tatkala ia dengan tergesa beranjak dari kursi, masih dengan memandangi kertasnya.

"Loh, belum berangkat? Apalagi yang kautunggu?"

"Sangunya belum, Pak."

 Sambil menadahkan tangan aku bernyanyi lagu yang diajari ibuku dulu.

"Oh ibu dan ayah selamat pagi,
kupergi sekolah sampai kaunanti."

Aku melirik Bapak, berharap ia senang dengan suaraku. Muka itu datar saja. Tangannya sibuk memilah beberapa lembar uang dari sakunya. Aku makin keras bersenandung.

"Selamat belajar nak penuh semangat,
rajinlah selalu tentu kau dapat,
hormati gurumu sayangi teman,
itulah tandanya kau murid budiman."

Selembar uang kumal dua ribuan itu dilempar Bapak ke pangkuanku, padahal aku tahu uang bapak banyak, karena semalam ia menang berjudi.

"Itu hanya cukup buat sarapan, Pak."
Bapak justru mendengkus kasar.
"Sudah, jangan banyak cingcong kau!"

Aku melesat pergi, sebelum kepalaku dipukulnya seperti hari kemarin, saat kuminta tambahan uang saku.

"Hey, Agni," sapaku pada gadis imut yang berkuncir kuda. Agni tersenyum, memamerkan gigi putihnya yang mirip iklan pasta gigi.

Ya ampun, aku lupa sikat gigi tadi. Bahkan letak sikat gigi itupun, aku tak ingat lagi.

Agni mengajakku masuk kelas, tetapi ibunya lekas menarik tangannya.
"Jun, masuk saja dulu, nanti Agni menyusul."
Aku mengangguk. Samar kudengar ibu Agni berkata," jauh-jauh dari anak  nakal itu, Nak."
Aku nakal?

Ibu Guru  Ninik menyambutku dengan tersenyum. Kuraih tangannya  dengan senang. Belum sempat kucium tangan Bu Guru, ketika Abi merebutnya.

"Bu, Abi sudah sikat gigi. Hiiii ...."
Abi meringis memamerkan  giginya yang gigis. Bu guru mengacungkan dua jempol tangannya. Abi semakin lengket  pada bu guru.

Aku senang, tatkala Bu guru Ninik menatapku, saat kali kecilku manaiki meja pendek yang dipakai  alas menulis teman-teman.

"Jun, turun, Nak."
Aku tertawa. Kakiku makin lincah melompat. Aku baru mau turun, ketika Bu Guru Ninik menangkapku, lalu dengan lembut mengajak berbaris.

Semenjak itu, aku tahu cara menarik perhatian guru,  dan teman-temanku.
Aku suka melihat teman- teman tergelak, melihat polahku. Aku suka ekspresi Bu Guru yang khawatir, tetapi aku tidak suka ketika ibu teman-teman menyebutku nakal.

Hari ini aku bosan dan lapar. Jadi kutarik rambut  ekor kuda milik Agni. Ia menjerit histeris. Astaga, padahal aku menarik rambutnya, belum sekeras Bapak saat menarik rambutku.

"Siapa yang nakal?"
"Juuun ...."
Semua menunjukku.
"Agni, maaf, ya," kataku penuh sesal ketika kulihat matanya berkaca.

Aku memang nakal, tatkala Bapak membawa perempuan bergincu tebal itu ke kamar ibu. Kunyalakan mercon saat mereka main kuda-kudaan. Aku jungkir balik tertawa, saat Bapak sedemikian kagetnya hingga keningnya njendol kejedot tembok.

"Dasar anak nakal!"

Dengan emosi meluap, Bapak mengikatku di kursi.  Aku masih terpingkal-pingkal melihat kening bapak.

"Kubunuh kau, anak sundal!"

Tawaku terhenti seketika. Ibu bukan sundal, ia hanya mencari sesuap nasi buatku. Aku sering melihatnya menangis saat ia pulang dari rumah bordil itu.

"Juih."

Ludahku menyembur ke muka Bapak.
Ia makin kalap. Dicekiknya leherku hingga napasku tinggal satu-satu.

"Matilah kau!" teriaknya.

Aku memang ingin mati, agar bisa menyusul ibu di kuburan. Jadi kunikmati cekikan Bapak, walau rasa sakit itu mendera. Lalu perlahan sakit itu mengurai, napasku begitu lapang, dan aku merasa damai, seiring doa para pelayat yang mengiringi langkahku ke pekuburan di samping ibu.

End.
Ngk, 16012020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

30 Desember

AKULAH SANG RATU