Merpati Putih
#30HariMenulis_Hari_6
Absen no 37
Words 613
Not Human
Bayangkan bahwa Anda bukan manusia. Hendak menjadi apakah Anda?
Merpati Putih
"Aku ingin menjadi burung merpati," desah Andra.
Safira terbahak.
"Apa enaknya jadi merpati Ndra? Kamu tuh cocoknya jadi kodok. Mirip cerita itu loh, Pangeran Kodok."
"Adanya Pangeran Dangdut Fir," ucap Andra,"
Aku akan terbang bebas Fira, melewati hutan, sawah bahkan lautan. Aku juga bisa bertengger di lubang angin kamar mandimu, lalu mengintip kamu mandi. Ha ha ha."
"Dasar wong edan!" seru Safira kepada sobatnya itu.
"Fir, temenin aku ke Mbah Wongso yuk. Kudengar ia bisa mengabulkan permintaan yang muskil sekalipun."
"Hiiii, ogah ah. Serius, kamu mau kesana, Ndra?" tanya Fira.
Andra mengangguk yakin.
"Good luck ya Ndra."
***
"Kamu yakin akan keinginanmu menjadi merpati, Ngger?" tanya Mbah Wongso dengan tatapan tajam.
"Iya Mbah, saya bosan menjadi manusia. Saya ingin bisa terbang lepas, bebas semaunya," jawab Andra bersemangat.
"Sudah kamu siapkan tumbalnya?"
Mbah Wongso berkata seraya mengambil tongkat tengkoraknya.
"Ini Mbah."
Andra menyerahkan lima helai rambut panjang kepada Mbah Wongso. Kemudian rambut itu dililitkan di leher sebuah boneka yang berbalut kain putih. Andra ternganga ketika melihat ada darah segar merembes dari leher boneka putih itu.
***
Jauh di sana, seorang Fira tengah berkelojotan seraya memegangi lehernya setelah makan mie instan. Paginya Fira ditemukan tak bernyawa di kamar kos-nya, dengan mie yang masih tersisa di mulutnya.
"Nasib anak kos. Kebanyakan makan mie instan, hingga kelolodan tuh anak," bisik ibu-ibu tetangga kos.
***
"Ngger, bersiaplah. Setelah pulang dari sini, Nak Andra akan berubah menjadi seperti yang diinginkan. Semoga engkau tidak menyesal anak muda," kata Mbah Wongso.
"Saya pamit Mbah," ucap Andra sembari mencium tangan Mbah Wongso.
***
Baru saja Andra selesai mandi, ketika tiba-tiba tubuhnya menjadi kecil, sepasang sayap tumbuh menggantikan tangannya. Andra bersorak kegirangan.
"Benar-benar sakti Mbah Wongso," batin Andra.
Ia mencoba mengepakkan sayapnya.
Bek bek bek.
Widih, berhasil. Ia coba terbang ke atas langit-langit kamarnya. Uff!
Kepalanya terantuk plafon kamarnya. Ho ho ho.
Ternyata ia harus banyak belajar untuk menyeimbangkan antara kepakan sayap dan angin di sekitarya.
Andra tersenyum, saat melihat perwujudannya sebagai burung di cermin. Sempurna!
Seperti impiannya selama ini. Cucuknya berwarna kuning, kakinya juga. Matanya kecil, berkedip-kedip dengan seksi. Saat ia bentangkan sayapnya, ahh ... Andra benar-benar merasa paling gagah dan paling ganteng sedunia.
Aliando yang bermain di sinetron Ganteng-ganteng serigala lewat, apalagi Sule yang tidak bermain di sinetron itu.
Setelah beberapa menit Andra terbang di langit-langit kamarnya, ia segera melesat melewati jendela kamar dan hinggap di pohon jambu di depan kos nya. Andra merasa matanya menjadi sangat tajam saat melihat di kegelapan.
"Ah, enaknya menjadi burung," bisiknya.
Tiba-tiba ia melihat ada ulat kecil sedang berjalan di ranting pohon tempatnya hinggap.
Ulat itu tampak ketakutan, berlari secepat mungkin dan Andra dengan geli mencucuknya.
"Cup ... glek." Ulat kecil itu masuk kerongkongannya.
"Enak ternyata."
Andra tersenyum geli dengan ulahnya sendiri.
Kemudian Andra ingat Safira, sohibnya. Sigap dibentangkanlah sayapnya dan terbang ke rumah Safira. Agak kesulitan juga saat Andra harus menyelinap diantara lubang angin kamar Safira. Berhasil!
Andra merasa menyesal saat dari atas lubang angin dilihatnya Safira sedang ngupil, dan dengan joroknya upil itu ditempelkan ke tembok. Ih, cantik-cantik tapi jorok. Beda banget dengan Lintang, gadis yang baru dipacarinya beberapa bulan ini.
Lintang, gadis cantik pindahan dari Jakarta itu satu kampus dengannya. Setelah pedekate ala kadarnya, dua bulan lalu Andra nekat menembaknya dan ternyata gadis itu menerimanya sebagai pacar. Tentu saja Andra merasa surprise. Walau dalam hatinya, Andra merasa ada sesuatu dengan Lintang.
Sepertinya Lintang bukan gadis biasa. Tangannya lembut tapi kuat banget. Ia pernah adu panco dan Andra kalah. Tebakannya adalah Lintang seorang reserse yang diterjunkan di kampusnya, berkaitan dengan ditemukannya beberapa teman yang kedapatan membawa narkoba. Dalam hatinya, Andra bangga punya pacar seorang reserse.
"Mungkin inilah saat yang tepat untuk mengetahui siapa Lintang sebenarnya," bisik Andra.
Andra segera terbang ke kos-an Lintang. Agak jauh memang, tetapi dengan wujudnya sebagai burung merpati yang tangguh, itu bukan masalah bagi Andra. Lagi-lagi Andra merasa beruntung menjadi merpati.
Nasib baik sedang di pihak Andra malam ini. Jendela kamar Lintang terbuka lebar. Andra dengan bebas masuk ke kamarnya.
Ia memilih bertengger di almari baju milik Lintang.
"Byur byur kecipak-kecipak."
Lintang sedang mandi. Andra tergoda ingin mengintipnya. Saat hatinya sedang kebingungan untuk memilih antara mengintip dan tidak, Lintang sudah keluar dari kamar mandi.
Tubuhnya yang putih mulus terlilit handuk merah maroon. Andra menelan salivanya berkali-kali. Saat Lintang membuka almari, mengambil gaunnya, napas Andra memburu.
Matanya tak berkedip menatap tubuh sintal itu.
"Bug!"
Andra terjatuh tepat di kaki Lintang, saat Lintang melepas handuk yang membalut tubuhnya.
"Hey, ada burung di kamarku. Kamu ngintip aku ya!" teriak Lintang.
Dengan gemas ditangkapnya Andra yang sedang shock batin melihat penampakan Lintang. Terjawab sudah siapa Lintang sebenarnya.
Andra berteriak semampunya," Lintaaang, ini aku, Andra pacarmu. Aku janji tidak akan memberitahu teman-teman bahwa kamu laki-laki!"
Sayang, semua terlambat, karena teriakan Andra hanya berupa suara burung belaka.
"Errggh erggh erggh."
Lintang mengambil pisau dapur yang berkilat, menggorok leher merpati itu, dan menggorengnya untuk santapan makan malam.
The end.
Absen no 37
Words 613
Not Human
Bayangkan bahwa Anda bukan manusia. Hendak menjadi apakah Anda?
Merpati Putih
"Aku ingin menjadi burung merpati," desah Andra.
Safira terbahak.
"Apa enaknya jadi merpati Ndra? Kamu tuh cocoknya jadi kodok. Mirip cerita itu loh, Pangeran Kodok."
"Adanya Pangeran Dangdut Fir," ucap Andra,"
Aku akan terbang bebas Fira, melewati hutan, sawah bahkan lautan. Aku juga bisa bertengger di lubang angin kamar mandimu, lalu mengintip kamu mandi. Ha ha ha."
"Dasar wong edan!" seru Safira kepada sobatnya itu.
"Fir, temenin aku ke Mbah Wongso yuk. Kudengar ia bisa mengabulkan permintaan yang muskil sekalipun."
"Hiiii, ogah ah. Serius, kamu mau kesana, Ndra?" tanya Fira.
Andra mengangguk yakin.
"Good luck ya Ndra."
***
"Kamu yakin akan keinginanmu menjadi merpati, Ngger?" tanya Mbah Wongso dengan tatapan tajam.
"Iya Mbah, saya bosan menjadi manusia. Saya ingin bisa terbang lepas, bebas semaunya," jawab Andra bersemangat.
"Sudah kamu siapkan tumbalnya?"
Mbah Wongso berkata seraya mengambil tongkat tengkoraknya.
"Ini Mbah."
Andra menyerahkan lima helai rambut panjang kepada Mbah Wongso. Kemudian rambut itu dililitkan di leher sebuah boneka yang berbalut kain putih. Andra ternganga ketika melihat ada darah segar merembes dari leher boneka putih itu.
***
Jauh di sana, seorang Fira tengah berkelojotan seraya memegangi lehernya setelah makan mie instan. Paginya Fira ditemukan tak bernyawa di kamar kos-nya, dengan mie yang masih tersisa di mulutnya.
"Nasib anak kos. Kebanyakan makan mie instan, hingga kelolodan tuh anak," bisik ibu-ibu tetangga kos.
***
"Ngger, bersiaplah. Setelah pulang dari sini, Nak Andra akan berubah menjadi seperti yang diinginkan. Semoga engkau tidak menyesal anak muda," kata Mbah Wongso.
"Saya pamit Mbah," ucap Andra sembari mencium tangan Mbah Wongso.
***
Baru saja Andra selesai mandi, ketika tiba-tiba tubuhnya menjadi kecil, sepasang sayap tumbuh menggantikan tangannya. Andra bersorak kegirangan.
"Benar-benar sakti Mbah Wongso," batin Andra.
Ia mencoba mengepakkan sayapnya.
Bek bek bek.
Widih, berhasil. Ia coba terbang ke atas langit-langit kamarnya. Uff!
Kepalanya terantuk plafon kamarnya. Ho ho ho.
Ternyata ia harus banyak belajar untuk menyeimbangkan antara kepakan sayap dan angin di sekitarya.
Andra tersenyum, saat melihat perwujudannya sebagai burung di cermin. Sempurna!
Seperti impiannya selama ini. Cucuknya berwarna kuning, kakinya juga. Matanya kecil, berkedip-kedip dengan seksi. Saat ia bentangkan sayapnya, ahh ... Andra benar-benar merasa paling gagah dan paling ganteng sedunia.
Aliando yang bermain di sinetron Ganteng-ganteng serigala lewat, apalagi Sule yang tidak bermain di sinetron itu.
Setelah beberapa menit Andra terbang di langit-langit kamarnya, ia segera melesat melewati jendela kamar dan hinggap di pohon jambu di depan kos nya. Andra merasa matanya menjadi sangat tajam saat melihat di kegelapan.
"Ah, enaknya menjadi burung," bisiknya.
Tiba-tiba ia melihat ada ulat kecil sedang berjalan di ranting pohon tempatnya hinggap.
Ulat itu tampak ketakutan, berlari secepat mungkin dan Andra dengan geli mencucuknya.
"Cup ... glek." Ulat kecil itu masuk kerongkongannya.
"Enak ternyata."
Andra tersenyum geli dengan ulahnya sendiri.
Kemudian Andra ingat Safira, sohibnya. Sigap dibentangkanlah sayapnya dan terbang ke rumah Safira. Agak kesulitan juga saat Andra harus menyelinap diantara lubang angin kamar Safira. Berhasil!
Andra merasa menyesal saat dari atas lubang angin dilihatnya Safira sedang ngupil, dan dengan joroknya upil itu ditempelkan ke tembok. Ih, cantik-cantik tapi jorok. Beda banget dengan Lintang, gadis yang baru dipacarinya beberapa bulan ini.
Lintang, gadis cantik pindahan dari Jakarta itu satu kampus dengannya. Setelah pedekate ala kadarnya, dua bulan lalu Andra nekat menembaknya dan ternyata gadis itu menerimanya sebagai pacar. Tentu saja Andra merasa surprise. Walau dalam hatinya, Andra merasa ada sesuatu dengan Lintang.
Sepertinya Lintang bukan gadis biasa. Tangannya lembut tapi kuat banget. Ia pernah adu panco dan Andra kalah. Tebakannya adalah Lintang seorang reserse yang diterjunkan di kampusnya, berkaitan dengan ditemukannya beberapa teman yang kedapatan membawa narkoba. Dalam hatinya, Andra bangga punya pacar seorang reserse.
"Mungkin inilah saat yang tepat untuk mengetahui siapa Lintang sebenarnya," bisik Andra.
Andra segera terbang ke kos-an Lintang. Agak jauh memang, tetapi dengan wujudnya sebagai burung merpati yang tangguh, itu bukan masalah bagi Andra. Lagi-lagi Andra merasa beruntung menjadi merpati.
Nasib baik sedang di pihak Andra malam ini. Jendela kamar Lintang terbuka lebar. Andra dengan bebas masuk ke kamarnya.
Ia memilih bertengger di almari baju milik Lintang.
"Byur byur kecipak-kecipak."
Lintang sedang mandi. Andra tergoda ingin mengintipnya. Saat hatinya sedang kebingungan untuk memilih antara mengintip dan tidak, Lintang sudah keluar dari kamar mandi.
Tubuhnya yang putih mulus terlilit handuk merah maroon. Andra menelan salivanya berkali-kali. Saat Lintang membuka almari, mengambil gaunnya, napas Andra memburu.
Matanya tak berkedip menatap tubuh sintal itu.
"Bug!"
Andra terjatuh tepat di kaki Lintang, saat Lintang melepas handuk yang membalut tubuhnya.
"Hey, ada burung di kamarku. Kamu ngintip aku ya!" teriak Lintang.
Dengan gemas ditangkapnya Andra yang sedang shock batin melihat penampakan Lintang. Terjawab sudah siapa Lintang sebenarnya.
Andra berteriak semampunya," Lintaaang, ini aku, Andra pacarmu. Aku janji tidak akan memberitahu teman-teman bahwa kamu laki-laki!"
Sayang, semua terlambat, karena teriakan Andra hanya berupa suara burung belaka.
"Errggh erggh erggh."
Lintang mengambil pisau dapur yang berkilat, menggorok leher merpati itu, dan menggorengnya untuk santapan makan malam.
The end.
Komentar
Posting Komentar