ELEGI CINTA HAYAM WURUK



Elegi Cinta Hayam Wuruk

Menatap gambarmu adalah candu buatku. Mata yang bening itu seakan masuk ke rongga jiwa, membuatku tak berdaya. Bulu mata yang lentik, dan hidung bangirmu membuatku luluh lantak merindumu. Gemuruh hatiku seperti diterjang badai memandang bibir mungil dengan lengkung indah pada lukisanmu.

"Kau cantik sekali, Pitaloka," gumamku seraya kembali menatap inchi demi inchi wajah dan tubuhmu di lukisan.  Sungguh demikian lihai Sungging Prabangkara menjejakkan kuas pada selembar kain putih ini, melukiskan kecantikan wajahmu.

Aku menghitung hari menunggu kabar baik dari paman Patih Gajah Mada dari tanah Sunda. Ah, andai tahu seperti ini, aku akan pergi sendiri melamar putri Galuh itu. Menatapnya langsung seluruh keindahannya, mendengar langsung lembut suaranya yang mematri jiwa.

"Paduka tidak usah ikut melamar. Tidak pantas raja besar seperti paduka turun tangan sendiri untuk seorang Dyah Pitaloka Citraresmi. Percayakan saja kepada hamba."

Andai bukan paman Gajah Mada yang mengatakan, niscaya akan kutentang.
Tak tahukah engkau paman, hatiku ini telah terjerat jaring cinta sang Dewi.

Ini sudah hari keempat paman Mada berada di Galuh. Apakah gerangan yang menyebabkan paman Mada belum kembali ke Majapahit?
Kurangkah hantaran yang kukirim?
Ambillah semuanya, Pitaloka. Harta benda dan segala emas permata itu tak berarti, Aku hanya butuh cintamu.
Malam itu kutadahkan tangan pada Sang Hyang Widhi, merapal doa melangitkan pinta. Ijinkan aku meniti kasih bersama Dyah Pitaloka.

Kupeluk erat patih Gajah Mada kala kabar baik itu kuterima. Pitaloka menerima lamaranku. Dadaku serasa meledak saking bahagianya. Aku tak sabar lagi memeluk dan mencumbu mesra wangi tubuhnya. Menyapanya lembut 'Dinda Permaisuri.'

"Kapan upacara pernikahan digelar, Paman?"

"Secepatnya Paduka Raja. Kita tinggal menunggu kedatangan Prabu Linggabuana beserta keluarga. Sesampai di Bubat, Paduka Hayam Wuruk bisa menjemput pengantin putri dan melanjutkan upacara kebesaran di ibukota Majapahit."

Aku terdiam. Sejujurnya aku rela menyambangi Kerajaan Sunda demi mempersunting gadis yang parasnya begitu mempesona itu. Sudah selayaknya sebagai lelaki aku yang ke tlatah Sunda menjemput pengantinku. Namun mengapa Maharaja Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka menyetujuinya? Bukankah itu menyalahi tatakrama dan etika? Ini pasti ulah paman Mada. Kuakui betapa piawainya paman Patih dalam beradu pendapat dan bernegosiasi.

Aku berharap hari bergerak dengan cepat, secepat tumbuhnya cintaku pada Dyah Pitaloka yang ayu.

"Prabu Linggabuana dan rombongan sudah tiba di Bubat, Paduka."

Jantungku bertalu, hasratku menggebu. Aku ingin secepat kilat bertemu menatap paras jelita dan bening matanya. Kuputuskan untuk segera bersiap.

"Tahan dulu Paduka. Biar hamba yang menjemput. Kedatangan Baginda Raja ke Bubat akan merendahkan martabat Kerajaan Majapahit."

Sungguh perkataan paman Patih Gajah Mada itu sulit kuterima. Namun aku percaya paman berbuat seperti itu demi Majapahit. Kulepas kepergian paman patih beserta rombongan untuk menjemput permaisuriku.

Alangkah terkejutku ketika datang kabar Prabu Maharaja Linggabuana mengibarkan bendera perang. Ada apa ini? Harusnya Paman Gajah Mada menjelaskan padaku. Aku mencium ada ambisi politik di sini. Ah, Paman, mengapa kau campuradukkan Sumpah Palapamu dengan cintaku. Belum cukupkah seluruh negeri ini tunduk pada Majapahit?

Hari ini kepalaku masih berdenyut memikirkan bendera perang yang dikibarkan calon mertuaku di Bubat.
Tidak bisa kuputuskan sesuatu bila kejadian di Bubat itu belum jelas peristiwanya. Aku harus bertemu Paman Mada.

"Paduka ...."

Teriakan lirih seorang emban itu membuat firasatku tak enak. Ia bersimpuh di depanku dengan air mata yang mengalir tak henti. Gemetar diserahkannya selembar kain yang tergulung rapi. Aku menerimanya dengan dada gemuruh.

[Duhai Kakanda, kukenal Raja Hayam Wuruk sebagai lelaki yang bijak dan asih pada sesama. Itulah mengapa Pitaloka mau menerima pinangan Kakanda.

Tiga hari sudah Pitaloka bersanggrah di Bubat. Mengapa Kakanda tak jua datang menjemput? Detik itulah keraguan Pitaloka menyentak tentang putih cinta Kakanda.

Andai Kakanda tahu, begitu dahsyat pesona Hayam Wuruk di mata Pitaloka. Rindu ini menggeliat tak kenal waktu. Namun Patih Gajah Mada telah ingkar dengan kesepakatan.

Hati Pitaloka hancur Kanda, melihat tubuh ayahanda dihantam pedang. Remuk, kala satu demi satu sanak saudara dibantai prajurit Kakanda dalam peperangan yang tak imbang.

Aku, Dyah Pitaloka Citraresmi harus bela pati, Kanda. Harga diri kami adalah segalanya, sekalipun harus mengubur cinta Dyah Pitaloka pada  Hayam Wuruk. Kutunggu Kanda di swargaloka.]

Kutangkupkan kedua tangan ini pada wajah. Terbayang betapa kekasihku berjuang sendirian di palagan membela martabatnya. Mataku mengabur, penuh kabut. Duniaku runtuh seketika. Aku seperti terhempas pada jurang tak berdasar.

Aku luka, kecewa pada Patih Gajah Mada. Ambisinya menaklukkan wilayah Sunda membutakan mata hatinya. Secara halus kuusir mahapatih yang telah lancang itu dari Majapahit. Sejujurnya aku ingin membunuh dan mencincangnya, bila tak ingat jasanya pada Majapahit.

 Di pelukan ibunda Tunggadewi aku terisak pilu, menangisi elegi cintaku.

End.

Komentar

  1. Malem-malem nangis Mom Eny. Hikz

    BalasHapus
  2. Harga diri diatas segala, pun harus mengorbankan rasa. Nice story', mbak Eni. Tetap semangat, ya. Jangan kasih kendor, deh ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak Nov, atas dorongannya. Akhirnya bisa juga. Walau blum mahir

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

30 Desember

AKU BUKAN ANAK SUNDAL

AKULAH SANG RATU