IMPAS
Impas
"Mana suamimu?!"
Lelaki yang berkumis tebal itu tampak gemeretak menahan amarah. Rahangnya mengeras, tangan sebelah kiri mengepal. Ia berdiri di depan pintu rumahku, seraya menggamit erat, tangan seorang perempuan.
Ia dan perempuan itu baru mau menyentuh kursiku, ketika dengan lembut kupersilakan mereka duduk.
"Aku ingin bicara dengan suamimu."
Kali ini suara lelaki itu sedikit lebih tenang.
"Ada apa, Bang? Suamiku sedang keluar, paling sebentar lagi juga pulang."
Lelaki itu mendesah kecewa.
"Bang, kita pulang saja, yuk."
Perempua itu berkata dengan mimik takut.
Tanpa kusangka, lelaki itu justru menjambak rambut sang perempuan. Aku dan perempuan itu memekik. Mendengar teriakanku, lelaki itu melepas jambakannya.
"Aku Leo, dan perempuan liar ini, istriku."
Aku mengangguk.
"Suamimu dan Lina istriku, selingkuh."
Aku limbung dalam beberapa detik, mencoba tersenyum, walau terlihat hambar. Tatapan mataku langsung menghunjam pada perempuan yang bernama Lina. Ia menunduk, gelisah.
"Betulkah itu, Mbak Lina?" kataku bergetar.
Perempuan itu hanya membisu.
"Kau jawab itu, Lina!"
Suara menggelegar Leo, sontak membuat Lina pucat. Ia lekas membuka bibirnya cepat-cepat, ketika dilihatnya tangan Leo terlihat mengepal.
"Betul."
Seketika pandangan mataku mengabur, tertutup buliran air mata yang tak bisa kubendung. Isakku kian panjang, saat Leo memperlihatkan chat mesra dari Ridwan, suamiku. Lalu beberapa foto yang menggambarkan pergulatan Ridwan dan Lina di ranjang pun, semakin menambah remuk hatiku.
Leo sengaja membiarkan aku meluapkan emosi dengan tangisan yang melolong hingga beberapa waktu. Hingga di sela isak itu aku berkata," Pulanglah, Leo."
Leo memandangku dengan dahi mengernyit.
"Sudah kusiapkan pisau daging yang tajam ini untuk memotong senjata miliknya," ujarku.
Pisau daging yang berkilat itu kupamerkan kepada mereka.
Sekilas kulirik Lina, dan ia tampak sangat ketakutan. Leo pun pamit pulang, dengan tatapan puas. Ia menggenggam tanganku erat, seakan berkata," Potonglah burung milik suamimu, dengan sekali tebas."
Tangan Lina bergetar dengan hebat, terlihat kengerian di mata Lina, saat aku menyalaminya. Cuih, ingin aku meludahinya, hanya saja aku tak enak hati dengan Leo.
Jadi kubiarkan Lina pergi dengan hujaman mataku.
Hanya selisih waktu lima belas menit dengan kepergian Leo dan Lina, saat Ridwan suamiku, tiba. Ia heran kenapa aku tidak menyambut kepulangannya, mencium punggung tangannya dengan takzim, seperti biasanya.
Aku masih duduk dengan menyilangkan kaki, dengan memegang pisau daging yang kuasah hingga berkilat. Aku tersenyum sinis ketika mat a Ridwan tampak nanar melihat belasan foto mesumnya dengan Lina terhampar di ruang tamu.
"Anggap masalah ini selesai," ucapku lirih.
"Maksudmu?"
"Aku sudah melindungimu dari hujatan, makian, dan mungkin kekerasan yang harusnya kau terima dari suami selungkuhanmu."
Ridwan tampak lega.
"Kita seri, hal yang sama kulakukan dua tahun lalu, saat istri dari lelaki selingkuhanmu mengobrak abrik rumah kita, mencarimu."
End.

Hemmm, impas dalam hal ginian
BalasHapusHhha, ojok ditiru
Hapus