KETIKA LINTANG MELAMAR BULAN
Ketika Lintang Melamar Bulan
Aku melompat kegirangan kala dari amplop berwarna coklat itu tersembul sebuah tiket ke Museum. Selembar kertas mungil tersemat di amplop tersebut.
[Selamat, Anda mendapatkan tiket gratis ke Museum Kereta Api. Silakan reservasi dengan nomor di bawah ini, untuk keperluan pemberangkatan dan akomodasi.]
Pagi yang hangat, saat kakiku menapak di antrian tiket masuk museum. Ada lima belas orang dalam travel ini yang semuanya tua dan tak kukenal. Mereka berjalan dengan lamban membuatku memisahkan diri dari kelompok.
Semua terlihat bagus tetapi tak ada yang istimewa di museum ini. Kutampik ajakan dari seorang ibu untuk naik kereta tempo dulu.
"Saya menunggu di sini saja, Bu. Silakan bersenang-senang naik kereta jadul," ujarku sesopan mungkin.
Perhatianku kini tersita dengan sebuah gerbong tua tak terawat di pojokan museum. Berjalan di terik matahari menuju gerbong hitam itu membuat napasku kembang kempis.
"Minumlah."
Suara itu mengagetkan. Di depanku berdiri seorang laki-laki muda dengan kulit bersih. Hidungnya bangir dengan bulu alis yang tebal. Tak sia-sia aku melipir ke tempat ini dan bertemu dengan sosok seganteng ini.
Mungkinkah dia jodohku?
Ya ampun, pikiran gila macam apa ini?
Sebuah botol minuman dingin ia sodorkan padaku. Aku menggeleng, padahal tenggorokan ini tengah mendamba seteguk air.
"Minumlah, aku bukan orang jahat yang akan menghipnotismu dengan minuman."
Ia tertawa ketika aku dengan beringas meminum air itu hingga habis setengahnya.
"Kamu ternyata rakus juga, ya."
Giliran aku yang tertawa. Ia mengulurkan tangan menyebut nama," Lintang."
"Bulan," ucapku dengan mata berbinar.
Ia tersenyum, membuat debar tak beraturan di jantungku. Dengan isyarat mata, Lintang mengajakku naik ke gerbong tua. Ia bergerak dengan cepat. Tangannya cekatan membuka pintu gerbong, dan dalam sekejap tubuhnya menghilang.
"Bulan, susul aku!"
Senyumku mengembang mendengar teriakannya.
"Jangan naik! Itu gerbong setan!"
Suara itu demikian tegas kudengar.
Seorang lelaki paruh baya bertopi hitam dengan luka parut di pipi mendekat. Matanya yang merah menatap tajam, membuatku bergidik.
"Ikut aku, akan kutunjukkan sesuatu!"
Entah mengapa hatiku tergerak mengikuti langkahnya menjauhi gerbong.
"Bulan, lekaslah naik!"
Teriakan Lintang menyadarkanku. Ish, bagaimana mungkin aku bisa menuruti seseorang yang tak kukenal? Lekas kubalikkan badan berlari menuju pintu gerbong yang terbuka.
"Lintang, ada bapak tua menahanku naik," kataku dengan terengah.
Ia diam, tak menanggapi ucapanku.
"Kau ingin naik kereta ini, Bulan?"
"Bisakah? Bukankah ini hanya sebuah gerbong dengan lokomotif yang tua dan karatan?"
Lintang menyuruhku memejamkan mata, dan dalam hitungan detik kurasakan gerbong berjalan merambat ke arah barat. Betapa takjubnya aku melihat matahari yang perlahan bersembunyi di ufuk barat.
Langit bersemu kemerahan. Kepak sayap burung melintas ingin pulang ke sangkar. Semakin lama gerbong bergerak kian cepat melewati persawahan. Aku terpukau melihat ilalang yang berlenggok tertiup angin senja.
"Indah bukan?" ujarnya seraya menggenggam tanganku.
Aku mengangguk mengiyakan.
"Lintang dan Bulan selayaknya bersatu," gumamnya lirih.
Aku ternganga. Ya Tuhan, betapa dekat jodohku. Aku girang bukan kepalang. Genggaman Lintang kian erat, roda kereta berputar kian cepat. Suaranya berdecit diantara gesekan rel besi. Aku panik.
"Lintang, hentikan kereta ini!" pekikku.
Ia bergeming. Tatapannya lurus ke depan. Aku berusaha melepaskan tangan dari genggamannya, sambil menjerit ketakutan. Dengan marah Lintang menarik tuas lokomotif.
"Aku bosan sendirian di sini, Bulan, tinggallah bersamaku," rajuknya.
Aku menggeleng. Tubuh Lintang merosot ke bawah. Ia bersimpuh di kakiku. Laju gerbong melambat, dan berhenti.
"Bulan, menikahlah denganku."
Aku tetap menggeleng. Rasanya aneh Lintang mengajakku menikah, tinggal bersama. Bukankah kami baru kenal?
Kulihat kilat kecewa itu membias di matanya. Lintang bangkit, matanya nyalang menatapku.
"Lin-tang?"
Tubuhku bergetar hebat kala tangan lelaki itu mengarah leher. Aku mundur hingga tubuhku menabrak pintu gerbong. Malam kian pekat, membuat wajah Lintang tak terlihat. Ketika sinar bulan menyelusup masuk gerbong, kulihat wajah Lintang rusak tak berbentuk. Aku histeris dan melompat keluar gerbong dengan melafaskan istighfar," Astaghfirullah hal adziem."
Lalu gelap.
***
"Syukurlah dia sudah sadar. Untunglah gadis ini melompat dari gerbong. Jika tidak, ia akan mati di sana menemani Lintang yang mati terkunci di gerbong."
Lamat-lamat kudengar suara bapak tua itu. Kubuka mata dan kepalaku sudah berada di pangkuan seorang ibu, teman satu travel.
End.

Komentar
Posting Komentar