SINTA OBONG
Sinta Obong
Lelaki gagah itu terlihat tenang. Kedua tangannya bertangkup seraya menatapku. Matanya laksana panah, menancap tepat di jantung.
Gemuruh membahana kala ia berhasil merentangkan busur sakti milik ayah. Rasa senang merajai, hingga rona merah menjalar di pipi.
Lelaki itu bernama Rama, Pangeran dari kerajaan Ayodya.
"Kangmas, tangkaplah kijang cantik itu buatku!" teriakku manja saat ia mengajakku berburu.
Suamiku dengan tangkas berlari, mengejar kijang emas yang menerobos lebat hutan.
Gelisah manakala lelakiku itu tak kunjung kembali. Ah, terlukakah dia?
Sungguh aku kesal ketika Laksmana tak beranjak sedikitpun ketika kusuruh untuk menyusul kakaknya.
Adik macam apa itu? Oh, jangan-jangan ia telah terpikat oleh kecantikanku. Ia murka ketika aku menyindir hal itu. Ia pergi dengan tatap kecewa atas tuduhanku.
Hanya berselang menit kusadari putih hati Laksmana kala Rahwana jelek ini menculikku. Teriakanku raup ditelan sang hutan rimba.
"Aku mencintaimu, Sinta."
Mual aku mendengar bibir hitam Rahwana mengumbar kata. Aku hanya merindui Kangmasku.
"Sinta, menikahlah denganku."
Kupalingkan wajah, dengan bibir mencebik penuh benci. Kupikir ia akan menggeram murka, ternyata Ia hanya diam, tertunduk bisu. Kilat kecewa membias di matanya.
Raksasa itu memuja tanpa pernah menyentuhku sekalipun ia bisa. Sering kudengar raungan dan erangan menandakan kepiluan hati menghadapi penolakanku.
"Cinta itu suci, Sinta, aku tak berhak memaksa. Aku akan bertahan dan berjuang sekuat yang aku bisa."
Andai cinta Kangmas Rama seperti itu, pasti ia sudah membebaskanku. Mengapa begitu lama?
Senyumku merekah kala sorak sorai kemenangan terdengar membahana. Raja Alengka itu tewas memperjuangkan cintanya.
Dengan rindu yang memenuhi rongga kalbu kusongsong ksatriaku. Namun ia palingkan wajahnya enggan menatap. Rama meragukan setyaku, sekalipun sumpah telah menembus langit bahwa aku tak terjamah.
Seketika mendung mengepung, bulir bening di sudut mata menghujani pipiku. Hatiku berdenyut nyeri.
"Laksanakan pati obong!" titahku.
Rama tetap bergeming, membuatku kian hancur dan bertanya tentang cintanya. Ternyata belum cukup putih cintaku buat Rama. Lelakiku itu perlu nyawa untuk membuktikannya.
Kakiku seringan kapas kala melompat ke arah bara api yang panasnya mampu meluluhlantakkan besi. Aku pasrah dalam pelukan api yang menjilat.
End
Kalau Shinta ini wanita milenial tentu saja meninggalkan Rama ya Buk.
BalasHapusIyalah, 12 tahun dibiarin, aduduh. Thorlalu
BalasHapusIkut perih 😢😢
BalasHapusIya, perih
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus