TIGA JARIKU



 Tiga Jariku

Aku tersenyum dalam letih kala kudengar tangis bayi memenuhi ruang kamar. Namun mengapa tak  tak ada senyum hangat yang menyapa?

"Anakmu perempuan, Sum."

Bidan desa yang membantuku melahirkan itu menyerahkan bayi mungil padaku. Tanpa ucapan  selamat apalagi tatapan hangat. Ia seperti menghindari tatapanku.

"Kita perlu menyiapkan sepasaran buat anak kita, Mas."

Lelakiku itu menghela napas berat. Ada kilat kecewa terbias di matanya.

"Bayi itu cacat, Sum. Tak usah membuat acara syukuran."

Aku terhenyak, ada gigil di tubuh mendengar suara dingin Mas Hanan.
Duniaku mengabur tatkala kubuka bedong, terlihat jemari tangan bayi mungilku tak lengkap. Sepasang tangan itu hanya ada ibu jari dan telunjuk. Ada denyut nyeri ketika melihatnya.

"Ssst, bayi si Sumi cacat."
"Iya, ga punya jari. Matanya aneh."

Bisik-bisik itu tertangkap telinga, saat aku melintas. Aku mencoba  lapang dada. Namun aku tak sanggup membendung air mata kala mereka berkata bahwa anakku lahir cacat karena  karma. Oh, aku bukan penjahat dan tak gemar bermaksiat.
Setajam pedang mulut mereka berbicara.

Suamiku tak bergeming kala kupinta sebuah nama untuk kusematkan pada bayi tak berdosa ini. Adia Inasih, nama yang kupilih, karena ia adalah perempuan hadiah dari Tuhan.

"Sum, anakmu menangis. Lekaslah, aku tak ingin tetangga datang melihat Adia!" ucap Mas Hanan merengut.

Anakku katanya? Bukankah itu hasil dari benih yang ia tebar? Ada sakit yang bersemayam di hatiku.

"Tutupi ia dengan kain bila keluar rumah!"

Kutatap mata Mas Hanan dengan sakit, dan ia memalingkan wajah.

"Aku malu, Sum, semua membicarakan anak itu!" serunya seraya mengacak kasar rambutnya.

Aku sadar Mas Hanan tak bisa lagi kuajak berbagi. Ia sibuk dengan rasa malunya. Aku berusaha tegar menghadapi semua. Bisakah?

Sedang aku pun  masih tak mampu untuk menengadahkan kepala saat menggendong Adia. Masih pucat pasi kala satu persatu dari mereka membuka kain yang menutupi bayiku.

"Kasihan bayimu, ya Sum."

Kalimat itu seperti empati tetapi justru makin menyayat hati.
Mengapa mereka tak bertanya tentang bayiku. Mereka tak tahu bahwa Adia telah berhasil tengkurap sendiri. Tak juga bertanya kala Adia bisa berbicara dan menulis dengan indah.

Adiaku telah membungkam mulut mereka dengan kepintarannya, termasuk ayahnya.

***
"Mama, Adia pulang."

Tak kudengar salam yang biasa terucap dari bibir Adia. Naluri sebagai ibu menggeliat. Aku duduk di sisi pembaringan, mengelus rambut legamnya. Tubuhnya menelungkup dengan isak yang tertahan.

"Mama, Adia tak mau sekolah. Teman Adia jijik melihat jari ini!"

Tangis Adia pecah di pelukku. Kubiarkan tangisnya tumpah.

"Siapa saja yang ngomong begitu? Tidak semua teman begitu kan?"

Gadis kecilku itu berpikir sejenak, lalu menggeleng. Aku mendorongnya untuk tetap menjadi diri sendiri walau harus sendiri dikucilkan teman.

"Adia pasti bisa!"

Bibir mungil itu tersenyum kembali.

Naik kelas 6 SD, Adia meminta les tambahan. Ada sedikit kekhawatiran yang menghantuiku kala ia memilih les di kota.  Dan naluriku terbukti.

Baru tiga hari ia masuk les, dan ia pulang dengan tangan memerah.

"Tak apa-apa, Ma."

Kata itu yang keluar saat aku bertanya.

"Masalah Adia tak akan selesai bila Aida diam. Mama tak kan bisa membantu bila gadis mama ini tak bercerita."

Lalu ia mulai  bercerita dari hari pertamanya. Saat ia harus duduk di bangku deret kedua dari belakang, tepat di depan  cowok bernama Pradipta.

"Setiap menit kakinya menjejak kursiku, Ma. Adia tak bisa konsentrasi belajar. Hari kedua, ia pindah duduk di sebelahku, dan menjepit tiga jari kecil yang menyatu ini. Katanya jariku lucu."

Aku gemeretak menahan murka. Hatiku  basah air mata. Kuteriakkan kata 'Kamu kuat, kamu ibu yang tangguh' di setiap hela napas.

"Hari ketiga, ia pukul telapak tanganku  saat aku akan mengadu pada guru les."

Aku miris saat menyadari putriku jadi korban bullying. Malam itu kulalap habis seluruh artikel tentang bullying.

"Adia harus berani, lawan Pradipta!"

"Tapi Pradita laki-laki."

"Justru karena ia laki-laki, Adia akan menang. Ia akan malu berkelahi dengan perempuan."

Mata gadisku mengerjap. Ada pendar harap di sana.

"Kalau Adia luka dan berdarah bagaimana?"

"Berkelahi tak akan mati, sayang. Pukul balik bila ia memukul, tendang balik tak peduli luka. Kalah menang itu belakangan. Adia bisa?"

Aku senang kala anggukan penuh percaya itu kudapat dari Adia. Sorenya ia pulang dari les dengan mata berbinar. Tak ada luka tak ada darah di tubuhnya.

"Pradipta takut saat kutantang berkelahi, Ma. Ia juga diam ketika penggaris yang ia pakai untuk memukul, kupatahkan."

Kini Adia sudah menjelma menjadi seorang gadis yang ceria. Satu hal yang selalu diingatnya adalah pelaku bullying akan mencari makhluk yang terlihat lemah, patuh dan pasif.

End.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

30 Desember

AKU BUKAN ANAK SUNDAL

AKULAH SANG RATU