Postingan

SINTA OBONG

 Sinta Obong Lelaki gagah itu terlihat tenang. Kedua tangannya bertangkup seraya menatapku. Matanya laksana panah, menancap tepat di jantung. Gemuruh membahana kala ia berhasil merentangkan busur sakti milik ayah. Rasa senang merajai, hingga rona merah menjalar di pipi. Lelaki itu bernama Rama, Pangeran dari kerajaan Ayodya. "Kangmas, tangkaplah kijang cantik itu buatku!" teriakku manja saat ia mengajakku berburu. Suamiku dengan tangkas berlari, mengejar kijang emas yang menerobos lebat hutan. Gelisah manakala lelakiku itu tak kunjung kembali. Ah, terlukakah dia? Sungguh aku kesal ketika Laksmana tak beranjak sedikitpun ketika kusuruh untuk menyusul kakaknya. Adik macam apa itu? Oh, jangan-jangan ia telah terpikat oleh kecantikanku. Ia murka ketika aku menyindir hal itu. Ia pergi dengan tatap kecewa atas tuduhanku. Hanya berselang menit kusadari putih hati Laksmana kala Rahwana jelek ini menculikku. Teriakanku raup ditelan sang hutan rimba. "Aku mencint...

AKULAH SANG RATU

Gambar
Akulah Sang Ratu Aku meregangkan tubuhku seraya mengawasi pergerakan Resti. Sorak-sorai penonton tumpah ruah, seakan menyulut semangatku. "A-li-na! A-li-na!" Hari ini penentuan hidup mati antara aku dan Resti. Kusesalkan mengapa kami lahir dengan waktu yang sama, membuat aku dan Resti harus bertarung mati-matian untuk menyandang gelar Queen Bee. Resti menerjang ke arahku dengan amarah. Sedikit kumiringkan tubuh membuat ia jatuh terjengkang. Tepuk tangan riuh membahana. "Alina, i love you!" Suara si tampan Jack makin membuatku bergairah bertempur. Aku tersenyum mengejek, kala Resti bangkit dengan mata memerah. Ia menendang ke segala arah, padaku yang bergerak lincah. Saat ia lengah, kusengat ia berkali-kali hingga terhuyung dan roboh. Akulah ratu di kerajaan ini. Puluhan ribu betina pekerja itu menjura padaku. Semua pengasuh siap melayani. Aku berjalan jemawa menuju ruangan yang luas dan besar. "Aku lapar!" teriakku. Para pengasuh terli...

TIGA JARIKU

Gambar
 Tiga Jariku Aku tersenyum dalam letih kala kudengar tangis bayi memenuhi ruang kamar. Namun mengapa tak  tak ada senyum hangat yang menyapa? "Anakmu perempuan, Sum." Bidan desa yang membantuku melahirkan itu menyerahkan bayi mungil padaku. Tanpa ucapan  selamat apalagi tatapan hangat. Ia seperti menghindari tatapanku. "Kita perlu menyiapkan sepasaran buat anak kita, Mas." Lelakiku itu menghela napas berat. Ada kilat kecewa terbias di matanya. "Bayi itu cacat, Sum. Tak usah membuat acara syukuran." Aku terhenyak, ada gigil di tubuh mendengar suara dingin Mas Hanan. Duniaku mengabur tatkala kubuka bedong, terlihat jemari tangan bayi mungilku tak lengkap. Sepasang tangan itu hanya ada ibu jari dan telunjuk. Ada denyut nyeri ketika melihatnya. "Ssst, bayi si Sumi cacat." "Iya, ga punya jari. Matanya aneh." Bisik-bisik itu tertangkap telinga, saat aku melintas. Aku mencoba  lapang dada. Namun aku tak sanggup membendung...

KETIKA LINTANG MELAMAR BULAN

Gambar
Ketika Lintang Melamar Bulan Aku melompat kegirangan kala dari amplop berwarna coklat itu tersembul sebuah tiket ke Museum. Selembar kertas mungil tersemat di amplop tersebut. [Selamat, Anda mendapatkan tiket gratis ke Museum Kereta Api. Silakan reservasi dengan nomor di bawah ini, untuk keperluan pemberangkatan dan akomodasi.] Pagi yang hangat, saat kakiku menapak di antrian tiket masuk museum. Ada lima belas orang dalam travel ini yang semuanya tua dan tak kukenal. Mereka berjalan dengan lamban membuatku memisahkan diri dari kelompok. Semua terlihat bagus tetapi tak ada yang istimewa di museum ini. Kutampik ajakan dari seorang ibu untuk naik kereta tempo dulu. "Saya menunggu di sini saja, Bu. Silakan bersenang-senang naik kereta jadul," ujarku sesopan mungkin. Perhatianku kini tersita dengan sebuah gerbong tua tak terawat di pojokan museum. Berjalan di terik matahari menuju gerbong hitam itu membuat napasku kembang kempis. "Minumlah." Suara itu m...

ELEGI CINTA HAYAM WURUK

Gambar
Elegi Cinta Hayam Wuruk Menatap gambarmu adalah candu buatku. Mata yang bening itu seakan masuk ke rongga jiwa, membuatku tak berdaya. Bulu mata yang lentik, dan hidung bangirmu membuatku luluh lantak merindumu. Gemuruh hatiku seperti diterjang badai memandang bibir mungil dengan lengkung indah pada lukisanmu. "Kau cantik sekali, Pitaloka," gumamku seraya kembali menatap inchi demi inchi wajah dan tubuhmu di lukisan.  Sungguh demikian lihai Sungging Prabangkara menjejakkan kuas pada selembar kain putih ini, melukiskan kecantikan wajahmu. Aku menghitung hari menunggu kabar baik dari paman Patih Gajah Mada dari tanah Sunda. Ah, andai tahu seperti ini, aku akan pergi sendiri melamar putri Galuh itu. Menatapnya langsung seluruh keindahannya, mendengar langsung lembut suaranya yang mematri jiwa. "Paduka tidak usah ikut melamar. Tidak pantas raja besar seperti paduka turun tangan sendiri untuk seorang Dyah Pitaloka Citraresmi. Percayakan saja kepada hamba." An...

IMPAS

Gambar
Impas "Mana suamimu?!" Lelaki yang berkumis tebal itu tampak gemeretak menahan amarah. Rahangnya mengeras, tangan sebelah kiri mengepal. Ia berdiri di depan pintu rumahku, seraya menggamit erat, tangan seorang perempuan. Ia dan perempuan itu baru mau menyentuh kursiku, ketika dengan lembut kupersilakan mereka duduk. "Aku ingin bicara dengan suamimu." Kali ini suara lelaki itu sedikit lebih tenang. "Ada apa, Bang? Suamiku sedang keluar, paling sebentar lagi juga pulang." Lelaki itu mendesah kecewa. "Bang, kita pulang saja, yuk." Perempua itu berkata dengan mimik takut. Tanpa kusangka, lelaki itu justru menjambak rambut sang perempuan. Aku dan perempuan itu memekik. Mendengar teriakanku, lelaki itu melepas jambakannya. "Aku Leo, dan perempuan liar ini, istriku." Aku mengangguk. "Suamimu dan Lina istriku,  selingkuh." Aku limbung dalam beberapa detik, mencoba tersenyum, walau terlihat hambar. Tatapan mataku la...

AKU BUKAN ANAK SUNDAL

Gambar
Aku Bukan Anak Sundal "Jun  berangkat sekolah, Pak." Kucium tangan kasar bapak dengan takzim. Bapak melihatku sekilas, lalu sibuk menulis angka-angka yang tak kumengerti. Lalu ia dengan sumringah berteriak," lima delapan enam. Angka bagus ini, pasti aku menang." Bapak hampir menabrakku, tatkala ia dengan tergesa beranjak dari kursi, masih dengan memandangi kertasnya. "Loh, belum berangkat? Apalagi yang kautunggu?" "Sangunya belum, Pak."  Sambil menadahkan tangan aku bernyanyi lagu yang diajari ibuku dulu. "Oh ibu dan ayah selamat pagi, kupergi sekolah sampai kaunanti." Aku melirik Bapak, berharap ia senang dengan suaraku. Muka itu datar saja. Tangannya sibuk memilah beberapa lembar uang dari sakunya. Aku makin keras bersenandung. "Selamat belajar nak penuh semangat, rajinlah selalu tentu kau dapat, hormati gurumu sayangi teman, itulah tandanya kau murid budiman." Selembar uang kumal dua ribuan itu dilemp...

30 Desember

30 Desember Kelabu Senja di ujung 30 Desember kala itu, saat dua orang anak manusia yang berlainan jenis hadir di pelataran rumahku.  Tampaknya mereka sedang bertengkar walau dalam diam. Itu terlihat dari sinar mata sang lelaki yang tajam  membara. "Assalamualaikum." "Waalaikum salam," jawabku seraya menyilakan masuk. Berbeda dengan sang lelaki yang dengan mantap menjejakkan langkahnya masuk ke ruang tamu, si perempuan justru bergeming di tengah pintu. Dengan gemas lelaki itu menyeret tubuh perempuan itu masuk, lalu menghempaskannya ke kursi. Aku hanya bisa kebingungan, tak berdaya menatap kejadian itu. "Saya Ivan, ini istri saya Naina." Lelaki itu menyalamiku, sambil menyebut namanya dan istrinya. "Fia,"ucapku masih dengan heran. "Mbak, bisa bergeser di dekat saya sebentar?" kata Ivan. Deg! Sontak aku berpikir bahwa Ivan dan Naina ini komplotan yang suka menghipnotis orang. Saat aku dalam kebimbangan yang nyata itulah ...

Merpati Putih

#30HariMenulis_Hari_6 Absen no 37 Words 613 Not Human Bayangkan bahwa Anda bukan manusia. Hendak menjadi apakah Anda? Merpati Putih "Aku ingin menjadi burung merpati," desah Andra. Safira terbahak. "Apa enaknya jadi merpati Ndra? Kamu tuh cocoknya jadi kodok. Mirip cerita itu loh, Pangeran Kodok." "Adanya Pangeran Dangdut Fir," ucap Andra," Aku akan terbang bebas Fira, melewati hutan, sawah bahkan lautan. Aku juga bisa bertengger di lubang angin kamar mandimu, lalu mengintip kamu mandi. Ha ha ha." "Dasar wong edan!" seru Safira kepada sobatnya itu. "Fir, temenin aku ke Mbah Wongso yuk. Kudengar ia bisa mengabulkan permintaan yang muskil sekalipun." "Hiiii, ogah ah. Serius, kamu mau kesana, Ndra?" tanya Fira. Andra mengangguk yakin. "Good luck ya Ndra." *** "Kamu yakin akan keinginanmu menjadi merpati, Ngger?" tanya Mbah Wongso dengan tatapan tajam. "Iya Mbah, saya bosan ...